Syabab.Com - Buru teroris, polisi awasi dakwah selama Ramadhan. ”Polisi akan mengikuti (aktivitas dakwah), akan menempel lebih terbuka dan terus memantau,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Nana Sukarna. Isu terorisme dijadikan alat stigmasi Islam dan umatnya, bahkan bulan mulia Ramadhan justru dianggap ladang subur bersemainya teroris. Demikian dinyatakan dalam komentar politik Hizbut Tahrir Indonesia dalam situsnya.
"Untuk mereka, cukuplah firman Allah: Wa La Yahiqu al-makru as-sayyi’u illa bi ahlihi - Makar jahat hanya akan menimpa pelakunya sendiri...," tegasnya seperti dikutip dari situs mereka.Senjata Baru JIL
Isu terorisme juga telah dijadikan sebagai senjata baru bagi kaum liberal untuk melawan dan menghancurkan Islam. Alih-alih mereka membela Islam dan mengklarifikasi, kaum liberal yang difasilitasi oleh media komprador malah mendukung polisi periksa muslimah bercadar.
Seperti yang disampaikan oleh agen Jaringan Islam Liberal (JIL), Novriantoni Kahar di sebuah stasiun TV, Jumat, (21/8) malam. Alih-alih membolehkan aparat mencurigai simbol-simbol Islam. Lebih jauh ia justru menyalahkan kaum Muslim. Novriantoni juga mendesak agar sebagian umat Islam untuk sementara waktu melepaskan simbol-simbol tersebut.
“Untuk sementara, simbol-simbol tersebut harus dikurmakan terlebih dulu untuk mempermudah penangkapan terorisme,” tegasnya.
Namun usulan Novriantoni ini dibantah Abdurrohim Ghazali, seorang aktivis muda Muhammadiyah.
Menurut Abdurrohim Ghazali, penangkapan seseorang berdasarkan ciri fisik atau simbol agama seperti jenggot, jubah, dan cadar adalah sikap tak berdasar dan berlebih-lebihan. Jika semua ciri-ciri itu dijadikan dasar aparat untuk menangkap orang, maka semua orang akan bisa ditangkap.
“Nanti, orang-orang di Metro TV pun yang berjenggot bisa ditangkap, “ ujar Ghazali.
0 komentar:
Poskan Komentar