Rabu, 03 Juni 2009

Insfiring Love

(BAB II-Syamsul IS PERFECT BOY…. ?)
karya : Ade Wijaya [wijaya_al'antuqi@yahoo.com]


Setelah + 1 menit menunggu di halte. Akhirnya angkot yang ditunggu datang juga. Angkot dengan warna biru muda dan Flat cokelat dibawahnya itu perlahan menghampiriku dan tanpa aku menstopnya terlebih dahulu angkot pun berhenti dengan sendirinya. Dan tanpa banyak mikir akupun naik kedalam angkot tersebut. Dan tak kuduga sebelumnya, ternyata di dalam angkot itu sudah lebih dahulu Aldi duduk di jok sebelah kanan paling belakang.

Aldi, teman sekelasku itu dikenal sangat gokil dan sangat pandai bercanda (ngocol). Tidak kalah gokilnya denganku. Aku sendiri di kelas dikenal sebagai ketua kelas yang humoris dan ngocol dan teman – teman menganugerahkan gelar “siRaja Ngocol” kepadaku dan Aldi merupakan saingan terberatku dalam dunia per-ngocolan di kelas XI –IPA 8.
Saat ini secara kebetulan sekali aku bertemu dengan Aldi dalam satu angkot yang sama. Dan aku tentu tidak akan menyia – nyiakan kesempatan ini, lagi pula sudah sejak lama aku ingin menjajal kemampuan Aldi di bidang per-ngocolan. Itu artinya, sebentar lagi akan terjadi sebuah pertarungan kolosal (baca : adu ngocol) di dalam angkot ini.

Ketika aku menatap kearahnya, wajahnya kelihatan mulai mesem – mesem ketika melihatku, dia pun memanggilku untuk duduk disampingnya, hmmm… kurasa dia pun memikirkan hal yang sama dengan apa yang aku pikirkan.

“Hey…… Sul… sini, duduk disini…. !”, katanya.
“Oke…… !,” sahutku sambil mengacungkan jempolku.

Akupun duduk disamping kirinya dan belum sempat aku memulai pembicaraan, dia sudah mengambil star duluan.
“Sul….. tumben, pagi ini lu kayaknya segar banget, hehe….. udah kayak sayur dagangannya bang Mamat aja…..he…he…, wah….. untung tadi pagi lu gak lewat depan rumah gue, kalo lu lewat jangan – jangan lu udah dijadiin sop sama nyokap gue….,” celotehnya.

Hmmm…… tak salah lagi, Aldi sudah memulai pertarungan ini. Baiklah, aku nggak boleh kalah, dengan serentak aku balas kocolan Aldi tadi dengan gaya bicara yang cukup ringan.
”Hehe….. gue gitu loh, kalo itu sih udah dari sononya gue ditakdirin ganteng. Jangan kata cuma ibu lu, semua ibu – ibu se- Jawa Barat aza yang kalo melihat gue bawaannya pengen masak melulu, hehe…… gue dilawan.”
Aku berbalik menggoda Aldi, eh…. Aldi malah terlihat manyun 14 dengan mimik wajah yang meledek.

“Eh…. di, ngomong – ngomong gue punya tebak – tebakan nih buat elu, dijawab ya : di kalau monyet berevolusi jadi manusia, terus manusia jadi apa dong ?.”
langsung saja aku lemparkan pertanyaan pertamaku untuk Aldi.
Aldi terlihat bingung, sepertinya dia tidak bisa menjawab. Ternyata seorang Aldi yang dikenal sebagai “jawara gokil” itu tidak bisa menjawab tebak – tebakan yang aku berikan, dan memang terbukti bahwa selama ini tebak – tebakanku memang bermutu tinggi, jarang orang bisa menjawabnya dengan kreatif. Wah…. Senangnya aku…!
“Wah….. Sul, kayaknya gue belum pernah baca buku The Descent of Man- nya Charels Darwin tuh, jadi enggak tahu deh. oke lah gue nyerah aja. Terus apaan dong jawabannya,” Aldi menyerah.

“Di…., ternyata nama besar lu sebagai jawara gokil selama ini hanya isapan jempol kaki doang. Oke ! niih jawabannya: kalau monyet jadi manusia maka manusia jadi tambah banyak, hehe…. Betul gak ?.” jawabku sambil menyombongkan diri.
“Oke….., untuk yang itu gue ngaku nyerah deh, tapi niiiih…, gue juga punya tebak – tebakan buat lu : nenek apa yang bisa terbang?” sahutnya tidak mau kalah.
“Ah…. Itu sih gampang, jawabnya : kalau bukan nenek sihir, pasti nenek – nenek yang lagi flying fox, melayang – layang di udara,” jawabku asal.

“Sul, elu kelewatan banget sih, masa nenek – nenek pake acara flying fox segala sih, itu mah bukan neneknya yang terbang tapi nyawa nenek yang terbang alias udah koit, ah…. Jawabannya bukan itu,” gerutunya menyalahkan jawabanku.

Naa…ah aku jadi bingung juga nih, apa yah jawabnya ?. walaupun sudah ku coba berpikir habis – habisan, hingga memutar kepala aku mencari jawabannya, tapi tetap saja semua jawaban yang aku ajukan disalahkan aldi, wah gimana nih ?, aku gak bisa jawab.

Yah…. Mungkin dengan berat hati aku harus mengaku kalah, aku pun nyerah, dari pada kepalaku pecah hanya gara – gara tidak bisa jawab tebak – tebakannya Aldi, itu sangat tidak lucu.
“Oke… di, gue nyerah, gue gak tau jawabannya sampe butek nih otak. Aduh bisa – bisa stress gue mikirin tebak – tebakan elu itu. Apaan jawabannya,” kataku.
“Horeee…., hidup gue…. !, tebak – tebakan gue yahut kan ?” Aldi kegirangan.
“Jawaban yang benar, nenek yang bisa terbang itu ; neneknya burung, neneknya capung dan neneknya kupu – kupu juga bisa terbang,” jawabnya.

Beberapa penumpang yang mendengarnya spontan tersenyum bahkan ada yang tertawa. Dan aku pun hampir ketawa dibuatnya, tapi karena gengsi segera ku tata mimik wajahku sehingga tidak terlihat aku tertawa.
***


Tidak terasa sudah + 15 menit angkot melaju, di depan sudah terlihat bangunan gapura yang bertuliskan “SMA DARUL ULUM – Kabupaten Majalengka” yang tak lain dan tak bukan adalah sekolah tempat aku belajar, aku berkreasi dan tempat aku mengabdi.(cieee…)
Dan disana aku dikenal sebagai seorang aktifis yang eksis di berbagai organisasi ekstra kulikuler. Hampir semua ekstra kulikuler yang ada aku masuki dan aku aktif didalamnya. Ekskul – ekskul tersebut antara lain : Osis, Pramuka, Mading, Paskibra dan Bola Volley. Hari – hariku aku habiskan hanya untuk mengurusi berbagai kegiatan di organisasi-organisasi/ekskul tersebut.
***

Angkot yang kami tumpangi hampir melintasi depan gerbang sekolah, tapi kurasa kecepatan angkot tersebut tidak berkurang, pak sopir tetep anteng menginjak gas dengan tanpa sedikit pun merasa berdosa, eh… maksudku tanpa sedikit pun menguranginya. Dan apa yang terjadi ? benar saja, angkot itu melewati sekolahku, nampaknya Pak sopir lupa untuk menurunkan aku dan Aldi di depan sekolah. Dan aku sengaja diam tidak protes pada Pak Sopir. Aku ingin melihat bagaimana reaksi Aldi begitu sadar bahwa sekolah sudah kelewatan. Soalnya kata teman – teman ekspresi aldi suka lucu kalau sedang panik. Dan lebih baik aku pun pura – pura tidak sadar.
Benar saja, ketika dia melihat toko alat tulis “Ramayana” yang jaraknya + 20 m dari sekolah, dia sadar kalau sekolah kami sudah terlewat. Wajahnya terlihat memerah, kepalanya tak henti menengok ke kanan ke kiri, terlihat sekali kalau dia sedang panik.
“Loh…. !, kita mau dibawa kemana nih ?, kenapa gak berhenti di sekolah ?, emangnya sekolah kita udah pindah ya….. Sul ?, kok jalan terus, jangan – jangan kita mau diculik ya….,” katanya asal.

“Memangnya mau turun dimana de…. ?” sahut abang kenek.
“Ah… si abang, pake nanya lagi…. Ya… di sekolah dong, gak liat apa udah berseragam kayak gini masa mau turun di terminal sih.” Tandas Aldi makin kesal.
“Kiri…. Kiri…., pir… !” kata bang kenek yang memberi isyarat kepada Pak Sopir. Dan angkot pun berhenti.
“Ooooh…. Mau ke sekolah toh, kirain mau ngisi acara di radio, habis dari tadi rame banget sih…. !” kata abang kenek lagi, mencoba mencairkan suasana.
“Ah….. si abang bisa aja, emangnya kita ini cowok apaan,” kataku sambil turun dari angkot.
Dan kuberikan uang Rp. 2.000,- untuk ongkos aku dan Aldi kepada abang kenek. Sedangkan Aldi yang masih kesal dari tadi manyun 14 aja.
***


Setelah + 20 meter aku berjalan dari tempat kami turun tadi, akhirnya aku dan Aldi memasuki lingkungan SMA Darul Ulum. Ketika kami melintas di depan kelas X – 1 (sepuluh – satu) terlihat beberapa orang adik kelas cewek 15 yang mengenakan kerudung gaul sedang asyik berbincang – bincang di teras depan kelas mereka. Namun, begitu aku melintas pandangan mereka seoalh tertuju padaku, mereka tersenyum dan menyapaku :
“Kak, Samsul…., baru datang kak, selamat pagi,” sapa mereka padaku.
Dan aku hanya menyahutnya dnegan senyum. Aku bermaksud untuk menjaga image, agar lebih terlihat berwibawa.
Aldi yang melihat itu semua, merasa iri kepadaku, dia terus – terusan menggodaku,
“Ceile…. Si abang kita yang satu ini emang yahud euy, banyak banget fansnya, apa sih rahasianya bang,” katanya.

Dan entah apa yang terjadi, ketika Aldi tengah asyik menggodaku, tiba – tiba ia bergumam dengan tampang yang sangat serius kemudian dia berbicara dengan panjang lebar.
“Syamsul…, alangkah indah hidup ini kalau saja aku jadi kau. Betapa banyak orang yang mengagumimu, hampir tiada seorangpun di sekolah ini yang tidak mengenalmu. Kau adalah aktifis terhebat yang pernah kukenal, kau ketua kelas, kau diberi otak yang cerdas, juga wajah yang tampan. Begitu luar biasa anugerah Tuhan yang diberikan untukmu, andai aku bisa sepertimu.”

Mendengarnya……, aku terkejut bukan main, tak urung kata-katanya begitu menohok dadaku, dan akupun tertegun dibuatnya. Entah apa maksudnya dia sampai berbicara seperti itu, lagi pula baru kali ini aku melihat Aldi berbicara se-serius itu. Aku merasa dia bukanlah Aldi yang kukenal, dia orang lain, siapa dia sebenarnya ?.
Tak lama kemudian dia melanjutkan pembicaraannya :
“Kau begitu sempurna Samsul, janganlah kau sia – siakan anugerah itu, sekali lagi kukatakan kau sangat sempurna, you is Perfect Boy, sumpeh deh gue gak boong. He..he…he… (aldi nyengir kuda). Ribed juga yah… ngomong sok puitis kaya Dian Sastro, bikin pegel aza ! Sul, tapi keren gak acting gue tadi… ?”.
Ah…. Ternyata Aldi Cuma bercanda, kukira dia sungguh – sungguh mengatakan itu. Ternyata kata – kata yang telah membuatku tertegun itu tidak lebih dari bualan si gokil Aldi.
“Di….., elu hampir bikin jantung gue copot,” keluhku.

***

Tak terasa setelah berjalan sambil ngobrol akhirnya sampai juga kami di kelas, kami pun berpisah, masing – masing menuju tempat duduk. Aku duduk di banjar ke – 2 paling depan sedangkan Aldi duduk di banjar ke – 4 kursi ke – 2 dari belakang.
Selama berada di kelas aku masih kepikiran perkataan Aldi tadi. Walaupun belakangan kutahu dia hanya becanda tapi hatiku begitu terenyuh mendengarnya, kata – katanya begitu dalam, sampai – sampai ketika mengikuti pelajaran aku tidak dapat berkonsentrasi penuh karenanya.
***

Sepulang sekolah, usai melaksanakan shalat dzuhur, tiba – tiba aku kembali teringat pada perkataan Aldi tadi pagi.
“……., begitu luar biasa anugerah Tuhan yang diberikan untukmu…..”

Aku tak tahu apa sebenarnya maksud Aldi berkata demikian, apakah memang dia memuji atau malah menyindirku.
Memang selama ini ku sadari bahwa karunia Tuhan kepadaku sangatlah luar biasa. Kemampuan bersosialisasi yang baik, wajah tampan, otak cerdas juga keluarga yang menyayangi. Semua itu merupakan anugerah yang tak terbantahkan. Tapi satu yang membuatku tidak dapat menikmati semuanya yaitu kebodohan. Kebodohan yang telah membutakan mataku, kebodohan yang membuatku tidak pandai bersyukur atas anugerah yang diberikan Allah kepadaku. Hingga akhirnya akupun menjadi miskin hati dan gersang nurani.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.”. (qs. Ar-Rahman. : banyak ayat)


Kusadari selama ini, aku hanya membuang – buang waktu. Aku sia – siakan masa mudaku hanya untuk hal – hal yang sama sekali tidak berfaedah. Terkadang aku bertanya, apakah dengan aku mengorbankan waktu, pikiran, tenaga untuk OSIS, PRAMUKA, PASKRIBA dan lainnya itu akan berpengruh pada kebangkitan umat ? dimana integritasku sebagai remaja Islam yang katanya sebagai Agen Pembawa Perubahan. Bukan kah aku seorang muslim…?, bukankah aku dilahirkan dilingkungan keluarga yang begitu mencintai islam. Tapi kenapa selama ini yang bisa kulakukan hanya sebatas untuk mencari kesenangan dan kebahagaan semata, aku tidak pernah memikirkan keadaan muslim yang lain. Kurasa hidup ku ini penuh dengan kesia – siaan.
“Demi masa, sesungguhnya manusia (ada dalam) kerugian, melainkan yang beriman dan yang beramal shaleh.” (qs.al-asr: 1-3)

Tidak terasa tetesan air mata keharuan merambat jatuh dari kedua pelepah mata.
***
(Bersambung...)

0 komentar:

Poskan Komentar